Fauzan Al-Rasyid
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Sep 9 12 months ago 20 tweets Read on X
AI Summary

This thread explains that in Indonesian, "usia" and "umur" mean the same but are used differently. "Umur" refers to total life span, while "usia" is more respectful and often used in specific phrases. People often differentiate them based on context and feelings, not just literal meaning, and it's okay to choose one over the other depending on the situation.

Ini menarik. Apakah makna usia dan umur dalam bahasa Indonesia sama? Iya. Artinya, keduanya boleh saja dipertukarkan.

Dalam KBBI, umur adalah ‘lama waktu hidup atau ada’ (sejak dilahirkan atau diadakan), sedangkan usia adalah ‘umur’.

@fauzanfess
PBM! Bedanya usia sama umur itu apa ya?
Tweet image 1
Tweet image 2

KBBI mencontohkan:

- Umurku 22 tahun.
- Usiaku 22 tahuh.

Kedua kalimat di atas bermakna sama. Hanya saja, kata usia dianggap lebih takzim atau lebih hormat.

Mungkin ada yang berpikir bahwa jika kedua kata ini bermakna sama, mengapa usia dan umur tidak selalu bisa dipasangkan dengan kata-kata lain.

Misalnya, tidak ada yang bilang tutup umur. Semua orang bilang tutup usia. Begitu pula dengan usia produktif. Tidak ada yang bilang umur produktif.

Itu karena kata-kata seperti tutup usia, usia produktif, usia kawin, usia kehamilan, dsb., merupakan gabungan kata, bukan frasa.

Konstruksi gabungan kata memang sudah baku, tidak bisa dipertukarkan dengan kata lain sekalipun unsur-unsurnya memiliki sinonim dengan kata lain.

Kedua kata ini merupakan kata serapan. Kata usia diserap dari bahasa Sanskerta āyuṣya, sedangkan kata umur diserap dari bahasa Arab `umr (عمر).

Meski begitu, dalam penggunaan sehari-hari, kita sering kali membedakan penggunaan kedua kata ini, dan itu bukan soal takzim atau taktakzim.

Lebih dari itu, banyak orang membedakan penggunaan kata usia dan umur, termasuk saya sendiri.

Dalam pemahaman banyak ulama, umur adalah jatah waktu hidup yang diberikan Tuhan kepada manusia di dunia. Dengan demikian, umur adalah durasi hidup manusia sejak lahir sampai mati. Sementara itu, usia adalah sebagian dari umur yang sudah dijalani manusia.

Jadi, secara sederhana, umur, dalam pemahaman sebagian besar muslim, berarti sisa waktu hidup, sedangkan usia bermakna waktu hidup yang telah ditempuh semenjak lahir.

Artinya, tiap tahun usia kita bertambah, tetapi umur kita berkurang.

Bagi orang-orang yang membedakan makna kedua kata tersebut, penggunaan diksi umur pada lirik lagu ulang tahun, “panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia!” sudah tepat.

Kenapa? Karena diksi tersebut mengungkapkan harapan bahwa sisa waktu hidup (umur) yang bersangkutan (yang berulang tahun) panjang atau lama.

Jadi, kalau kita menanyakan umur seseorang, makna sebenarnya dari kalimat tanya itu adalah suatu yang kurang/tidak sopan karena dalam artian kasar menanyakan “kamu kapan mati?”

Sekali lagi, ini adalah pemahaman sebagian orang, bukan pemahaman umum.

Itulah mengapa, kalau ditanya mana yang akan saya pilih:

- Berapa usia Republik Indonesia?
- Berapa umur Republik Indonesia?

Saya akan pilih kata usia alih-alih umur.

Bagi saya, pertanyaan berapa umur Republik Indonesia sama seperti menanyakan berapa umur Uni Soviet atau berapa umur Yugoslavia, alias dua negara yang sudah tiada.

Namun, tentu saja, secara bahasa, kedua kata itu bersinonim. Jadi, siapa pun yang menggunakan kata umur dalam konteks apa pun, tidak bisa disalahkan.

Hanya saja, saya pribadi, kalau harus memilih saat menulis, saya membeda-kan penggunaan kedua kata tersebut.

Bagaimanapun, banyak orang yang berlebihan dalam memaksakan penggunaan suatu kata yang maknanya berbeda secara “rasa berbahasa”, bukan secara literal.

Kita tidak bisa menyalahkan “rasa berbahasa” seseorang karena itu sesuatu yang subjektif, tergantung pada pengalaman dan latar belakang tiap penutur.

Artinya, selama penggunaan suatu kata tidak bertentangan dengan makna harfiahnya, tetap berterima ketika disandingkan dengan kata-kata lain, dan digunakan sesuai dengan konteksnya, seperti kata usia dan umur, perbedaan “rasa berbahasa” tidak perlu diperdebatkan. Itu tak esensial.

Namun, sebagai penulis, atau bahkan penutur suatu bahasa, kita boleh saja membedakan penggunaan kata-kata tertentu.

Misalnya, saya membeda-kan penggunaan kata politisi dan politikus atau perempuan dan wanita dalam tulisan-tulisan saya sekalipun kedua maknanya sama saja.

Missing some Tweet in this thread? You can try to Update

More Threads by @fauzanalrasyid

31 tweets • 27 days ago
Read Thread
31 tweets • 27 days ago
Read Thread
20 tweets • 3 months ago
Read Thread
5 tweets • 4 months ago
Read Thread
10 tweets • 8 months ago
Read Thread

Unroll Another Thread

Convert any Twitter threads to an easy-to-read article instantly

Have you tried our Twitter bot?

You can now unroll any thread without leaving Twitter/X. Here's how to use our Twitter bot to do it.

  • Give us a follow on Twitter. follow us
  • Drop a comment, mentioning us @unrollnow on the thread you want to Unroll.
  • Wait For Some Time, We will reply to your comment with Unroll Link.
UnrollNow Twitter Bot
Modal Image
0:00 / 0:00