Berikut contoh kalimat yang tidak logis yang kerap muncul dalam komunikasi di antara penutur bahasa Indonesia.
1. Saya mengajar mata kuliah jurnalistik di kampus.
Kalimat ini tidak logis karena yang diajar mata kuliah, bukan mahasiswa. Seharusnya, “saya mengajarkan mata kuliah jurnalistik di kampus.”
2. Waktu dan tempat kami persilakan.
Kalimat ini tidak logis karena yang dipersilakan waktu dan tempat, bukan pembicara. Seharusnya, “kepada Bapak Y, kami persilakan.”
3. Kampus kami lulusannya berkualitas dan mudah bekerja.
Kalimat ini tidak logis karena mengandung dua subjek, yakni ‘kampus kami’ dan ‘lulusannya’. Seharusnya, “lulusan kampus kami berkualitas dan mudah bekerja.”
4. Mahasiswa terbaik pertama mendapat piala rektor.
Kalau dibilang “terbaik” itu artinya “paling baik” dan seharusnya otomatis menjadi yang nomor satu — tidak ada “terbaik pertama”, “terbaik kedua”, “terbaik ketiga”, dst. Kalimat di atas tidak logis.
5. Mahasiswa yang kehilangan dompet harap diambil di kantor satpam.
Yang diambil di kantor satpam “dompetnya” atau “mahasiswanya”? Kalimat di atas tidak logis.
6. Polisi sibuk mengatur kemacetan lalu lintas.
Kesannya tidak ada masalah, tetapi kemacetan itu seharusnya “tidak diatur”, tetapi “diuraikan”. Kalimat di atas tidak logis.
7. Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
Yang dikembalikan ke perpustakaan “bukunya” atau “yang meminjam”? Kalimat di atas tidak logis.
8. Mayat pria yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di kampung.
Mayat tidak mungkin mondar-mandir. Seharusya, “sebelum ditemukan tak bernyawa, pria itu sering mondar-mandir di kampung.”
Kalimat logis adalah perkataan yang masuk akal. Logis artinya sesuai dengan logika, benar menurut penalaran atau masuk akal.Berikut contoh kalimat yang tidak logis yang kerap muncul dalam komunikasi di antara penutur bahasa Indonesia.1. Saya mengajar mata kuliah jurnalistik di kampus.
Kalimat ini tidak logis karena yang diajar mata kuliah, bukan mahasiswa. Seharusnya, “saya mengajarkan mata kuliah jurnalistik di kampus.”2. Waktu dan tempat kami persilakan.
Kalimat ini tidak logis karena yang dipersilakan waktu dan tempat, bukan pembicara. Seharusnya, “kepada Bapak Y, kami persilakan.”3. Kampus kami lulusannya berkualitas dan mudah bekerja.
Kalimat ini tidak logis karena mengandung dua subjek, yakni ‘kampus kami’ dan ‘lulusannya’. Seharusnya, “lulusan kampus kami berkualitas dan mudah bekerja.”4. Mahasiswa terbaik pertama mendapat piala rektor.
Kalau dibilang “terbaik” itu artinya “paling baik” dan seharusnya otomatis menjadi yang nomor satu — tidak ada “terbaik pertama”, “terbaik kedua”, “terbaik ketiga”, dst. Kalimat di atas tidak logis.5. Mahasiswa yang kehilangan dompet harap diambil di kantor satpam.
Yang diambil di kantor satpam “dompetnya” atau “mahasiswanya”? Kalimat di atas tidak logis.6. Polisi sibuk mengatur kemacetan lalu lintas.
Kesannya tidak ada masalah, tetapi kemacetan itu seharusnya “tidak diatur”, tetapi “diuraikan”. Kalimat di atas tidak logis.7. Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
Yang dikembalikan ke perpustakaan “bukunya” atau “yang meminjam”? Kalimat di atas tidak logis.8. Mayat pria yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di kampung.
Mayat tidak mungkin mondar-mandir. Seharusya, “sebelum ditemukan tak bernyawa, pria itu sering mondar-mandir di kampung.”
Kalimat logis adalah perkataan yang masuk akal. Logis artinya sesuai dengan logika, benar menurut penalaran atau masuk akal. ... Berikut contoh kalimat yang tidak logis yang kerap muncul dalam komunikasi di antara penutur bahasa Indonesia. ... 1. Saya mengajar mata kuliah jurnalistik di kampus.
Kalimat ini tidak logis karena yang diajar mata kuliah, bukan mahasiswa. Seharusnya, “saya mengajarkan mata kuliah jurnalistik di kampus.” ... 2. Waktu dan tempat kami persilakan.
Kalimat ini tidak logis karena yang dipersilakan waktu dan tempat, bukan pembicara. Seharusnya, “kepada Bapak Y, kami persilakan.” ... 3. Kampus kami lulusannya berkualitas dan mudah bekerja.
Kalimat ini tidak logis karena mengandung dua subjek, yakni ‘kampus kami’ dan ‘lulusannya’. Seharusnya, “lulusan kampus kami berkualitas dan mudah bekerja.” ... 4. Mahasiswa terbaik pertama mendapat piala rektor.
Kalau dibilang “terbaik” itu artinya “paling baik” dan seharusnya otomatis menjadi yang nomor satu — tidak ada “terbaik pertama”, “terbaik kedua”, “terbaik ketiga”, dst. Kalimat di atas tidak logis. ... 5. Mahasiswa yang kehilangan dompet harap diambil di kantor satpam.
Yang diambil di kantor satpam “dompetnya” atau “mahasiswanya”? Kalimat di atas tidak logis. ... 6. Polisi sibuk mengatur kemacetan lalu lintas.
Kesannya tidak ada masalah, tetapi kemacetan itu seharusnya “tidak diatur”, tetapi “diuraikan”. Kalimat di atas tidak logis. ... 7. Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
Yang dikembalikan ke perpustakaan “bukunya” atau “yang meminjam”? Kalimat di atas tidak logis. ... 8. Mayat pria yang ditemukan itu sebelumnya sering mondar-mandir di kampung.
Mayat tidak mungkin mondar-mandir. Seharusya, “sebelum ditemukan tak bernyawa, pria itu sering mondar-mandir di kampung.”
Missing some Tweet in this thread? You can try to
Update